Pagi ini aku berantakin alarm sampai tiga kali. Suara bip-bip itu kayak soundtrack drama kecil di kamar—aku yang masih setengah ngantuk, selimut yang menempel, dan perut yang protes karena lupa sarapan. Kalau kamu pernah merasa kickstart hari seperti itu, tenang, aku juga. Artikel ini curhatan sekaligus catatan kecil tentang bagaimana aku menata ulang kebiasaan supaya produktivitas nggak cuma janji di resolusi Januari.
Bangun dengan Niat, Bukan Alarm
Langkah pertama bukan soal alarm semata, tapi soal niat. Dulu aku bangun karena suara alarm—bukan karena aku ingin melakukan sesuatu. Bedanya tipis tapi signifikan. Mulai dari men-setting satu tujuan kecil sebelum tidur: “Besok aku mau menyelesaikan 30 menit menulis” atau “besok aku mau beresin inbox 10 email penting”. Waktu alarm berbunyi, niat ini jadi pengingat personal yang lebih manjur daripada bunyi bip.
Praktiknya simpel: jangan langsung cek Instagram. Duduk dulu, tarik napas tiga kali. Bayangkan satu pencapaian kecil yang realistis. Rasanya klise, tapi otak manusia suka memberi penghargaan kecil kalau kita kasih target yang jelas. Aku biasa pasang catatan kecil di meja: “Selesaikan 1 tugas sebelum ngopi lagi.” Aneh tapi efektif — kopi jadi hadiah, bukan alasan untuk menunda.
Prioritaskan, Jangan Multitask
Kita sering bangga bisa melakukan banyak hal sekaligus, padahal itu ibarat iklan yang menjual segala: terlihat bagus, tapi nggak mendalam. Teknik favoritku adalah menentukan MIT — Most Important Task. Setiap pagi aku pilih satu tugas yang kalau selesai, bikin hari terasa produktif. Biasanya itu tugas yang butuh konsentrasi tinggi, bukan membalas notifikasi.
Gunakan time-blocking: blok 60-90 menit untuk kerja fokus, lalu istirahat 10-15 menit. Pas aku ikutin pola ini, kejadian “nggak inget ngapa-ngapain seharian” berkurang drastis. Dan jangan lupa: matikan notifikasi yang nggak perlu. Rasanya ajaib ketika kamu sadar berapa banyak waktu yang terambil cuma karena ponsel berbunyi.
Ritual Mini yang Bikin Otak Siap Kerja
Aku bukan orang yang produktif begitu keluar dari kasur, jadi aku buat ritual mini—lima sampai sepuluh menit—yang menandakan “waktunya otak kerja”. Ada tiga hal yang selalu kulakukan: minum segelas air, 3 menit menulis hal yang mengganggu pikiran (brain dump), dan meregangkan badan sebentar sambil lihat keluar jendela. Suasana pagi, cahaya yang masuk, dan bau kopi setengah matang itu somehow bikin mood naik.
Saat lagi butuh referensi, aku suka baca artikel tips singkat atau dengar podcast 5 menit. Satu sumber yang sering aku kunjungi untuk ide-ide pengembangan diri adalah sphimprovement — bukan karena iklan, tapi karena isinya sering nge-boost semangat buat coba hal baru. Ritual kecil ini menciptakan sinyal ke otak: dari mode santai ke mode kerja, tanpa drama.
Bagaimana Menjaga Momentum Saat Malas Datang?
Malas pasti datang. Itu manusiawi. Trik yang kusuka adalah memecah tugas besar jadi tugas micro: kalau menulis 2.000 kata terasa berat, mulai dengan 200 kata. Aturan dua menit juga jitu: kalau tugas bisa selesai kurang dari dua menit, lakukan sekarang. Kemenangan kecil itu menumpuk dan memberi energi buat lanjut.
Selain itu, accountability partner itu nyata manfaatnya. Kalau aku bilang ke teman “besok aku kirim draft,” peluang aku menunda turun drastis. Dan beri diri reward yang nyata: nonton episode serial kesukaan, jalan-jalan singkat, atau segelas es kopi dingin. Bukan hadiah mewah, cukup yang bikin senyum sedikit.
Akhirnya, inget bahwa produktivitas bukan soal kerja tanpa henti. Ini soal mengatur energi, bukan waktu semata. Beberapa hari aku produktif maksimal, beberapa hari lagi cuma bisa bertahan. Yang penting, dari alarm ke aksi itu perjalanan kecil yang bisa diulang—bukan sprint yang bikin burnout.
Kalau kamu mau, coba pilih satu trik dari tulisan ini dan pakai selama seminggu. Catat perubahannya, sekecil apa pun. Aku akan tetap eksperimen juga—dan kalau ada yang lucu atau epik terjadi (misalnya aku ngantuk tapi malah nemu ide brilian jam 2 pagi), janji aku curhat lagi di sini.